.:| Home | artikel | camp | foto | video | cendawan |:.

Kamis, 13 Desember 2012

Gunung Sojol



Cagar Alam Gunung Sojol terletak di Kabupaten Donggala dan Kabupaten Tolitoli Serta Parigi Moutong. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 64.448,71 hektar. Diresmikan sebagai cagar alam berdasarkan Surat Keputusan Menhutbun No. 339/Kpts-II/1999, 24 Mei 1999. Nama Sojol diambil dari nama Gunung di kawasan ini yang merupakan gunung tertinggi di Propinsi Sulawesi Tengah. 

Untuk menuju kawasan ini, jalur terdekat dapat dicapai dari desa-desa di Kecamatan Sojol Utara Kabupaten Donggala yang berjarak kurang lebih 125 kilometer arah utara kota Palu. Areal cagar alam ini kerap dijadikan lokasi hiking, pendakian serta penelitian. Kawasan ini dikenal dengan keragaman biodeversitinya antara lain tumbuhan Ebony atau kayu hitam, rotan serta hewan Anoa, Rangkong dan lainnya. 

Gunung Sojol 3025 mdpl merupakan Gunung tertinggi di propinsi Sulawesi Tengah, kondisi medan yang sangat alami juga menyulitkan para pendaki, pendakian ke Sojo bukan sebatas trekking atau hiking saja, jarangnya pendakian ke gunung ini menyebabkan setiap pendaki harus membuka/merintis jalur sendiri, termasuk menentukan arah lintasan yang akan ditempuh, ditambah dengan kondisi hutan tropis yang sangat rapat.

Selain menikmati panorama alam yang indah, anda juga dapat menyaksikan kehidupan Masyarakat Lauje yang mendiami kawasan ini, kehidupan mereka yang bersahaja beserta kearifan budaya yang mereka miliki kerap menarik minat para antrhopolog dalam dan luar negeri.

Gunung Nokilalaki



Gunung Nokilalaki dengan ketinggian 2335 mdpl, merupakan salah satu tujuan pendakian yang cukup popular di Sulawesi Tengah. Selain jalur pendakian yang baik, keindahan alam dan kekayaan flora fauna di kawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan yang menggemari aktifitas alam bebas. 

Nokilalaki terletak di kecamatan Palolo kabupaten Sigi, atau berada di sebelah timur kota Palu, dapat di capai dengan dengan kendaraan selama 45 menit dari Kota Palu. Gunung ini berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. 

Sepanjang jalur pendakian menuju puncaknya anda akan melalui hutan tropis dengan pepohonan yang lebat, sumber air terdapat hampir di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur pendakian terdapat tiga lokasi shelter yang bisa digunakan sebagai tempat menginap para pendaki.

Di gunung ini ada beberapa alternatif jalur, namun yang umum digunakan para pendaki adalah jalur pendakian daari desa Tongoa kecamatan Palolo. Dari desa yang berada di ketinggian 200 meter dari permukaan laut inilah pintu masuk yang bagus ke gunung Nokilalaki.

Pendakian kegunung ini memakan waktu 3 hingga 4 hari perjalanan normal dan santai. Kondisi medan juga cukup bervariasi dari landai, menanjak hingga cukup terjal, namun kondisi hutan dan suasana alami akan mengurangi kelelahan anda selama mendaki di gunung ini.

Gunung Mad

Untuk mencapai lokasi ini tidak terlalu sulit, dari Bandara palu atau pelabuhan pantoloan Palu anda tinggal melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus, sekitar 6 jam menuju Desa Pinedapa di Kecamatan Poso pesisir kabupaten Poso.

Rute pendakian dimulai dari Desa Pinedapa Kecamatan Poso Pesisir. Rute pendakian gunung berketinggian 2535 mdpl ini termasuk panjang dibanding pendakian ke beberapa gunung lainnya di Sulteng, terlebih lagi bila dibandingkan dengan rute pendakian gunung di pulau Jawa, hal ini dikarenakan titik start pendakian di mulai dari desa pesisir yang ketinggiannya sekitar 10 m dpl. Selain itu posisi Gunung Mad yang di kelilingi oleh bukit dan barisan pegunungan Balingara menambah panjang lintasan dan tingkat kesulitan.

Salah satu pesona yang sangat luar biasa di gunung ini adalah Danau Tanamorambu yang terletak di ketinggian 2100 mdpl, ini mengingatkan kita pada Gunung Rinjani dengan danau Segara Anak. Namun di danau ini suasana alamiahnya sangat kental dikarenakan jarang didatangi oleh manusia. Lokasi danau yang tidak jauh dari jalur pendakian membuat lokasi danau ini bagus dijadikan lokasi beristirahat (camp) sebelum maupun sesudah Puncak.

keindahan alam lainnya yakni flora dan faunanya, sering kali pendakian ke gunung ini kita bisa menyaksikan berbagai fauna endemik misalnya Anoa, Tarsius dan Burung Allo yang kerap melintas sepanjang perjalanan. di puncak gunung ini terdapat tringulasi dan dari sini anda bisa menyaksikan keindahan teluk tomini atau lembah napu di kejauhan.

Gunung Lokon



Gunung Lokon adalah sebuah gunung di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara. Gunung ini memiliki ketinggian 1.580 m. Pada letusan tahun 2001 Gunung Lokon meletus, sebagian wilayah Kota Manado yang berjarak sekitar 25 Km dari gunung itu, ditutupi hujan debu yang mengguyur disebabkan karena tiupan angin. Material debu yang dikeluarkan dari kawah gunung api ini berbentuk lava pijar dan ketinggiannya diperkirakan mencapai 400 meter.

Gunung Lokon merupakan salah satu wisata pendakian menarik bagi pencinta alam. Keunikannya, di puncak Gunung tersebut kita dapat melihat kawah (kepundan) gunung yang masih aktif, dan dari puncak Gunung Lokon kita dapat melihat panorama yang sangat indah terlebih saat matahari terbit di pagi hari serta pemandangan kota Manado, Tondano, Tomohon, Amurang, Bitung dan lain-lain. Juga wisata hutan Kayawu di lereng Gunung Lokon yang tetap dipelihara kelestariannya oleh pemerintah dan masyarakat desa Kayawu.

Gunung Klabat



Gunung ini terletak tidak begitu jauh dari kota Manado Sulawesi Utara. Gunung ini sangat mudah dicapai dari kota Manado, hanya butuh waktu 30 menit dengan menggunakan kendaraan jenis mikrolet, kita akan sampai di Airmadidi yang merupakan akses untuk pendakian gunung Klabat. Sangat sulit untuk menemukan air digunung ini pada musim kemarau. Jadi sebaiknya mengisi perbekalan air yang cukup di Airmadidi sebelum melanjutkan perjalanan anda.
Rute Pendakian
Gapura - Pos 1
Perjalanan dimulai dari gapura Gunung Klabat yang terletak di Airmadidi, melewati jalan desa yang cukup baik kondisinya serta rumah-rumah penduduk yang memang sudah modern, karena terletak di pinggir jalan raya. Perjalanan selanjutnya memasuki perkebunan penduduk yang didominasi oleh tumbuhan kelapa. Setelah itu keadaaan jalan setapaknya mulai menanjak, ada baiknya kita menghemat air karena kita tidak akan menemukan sumber air sampai Pos VI. Vegetasi tumbuhan disini ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan tingi-tingi, tapi kebanyakan pohon tersebut ditebang untuk keperluan industri, sehingga banyak sekali terjadi kerusakan. dari gapura ke Pos I berjarak sekitar 60 menit dengan berjalan normal. SAmpai di Pos I kita hanya akan menjumpai tanda Pos I, karena tidak ada pondok atau shelter. Didaerah ini banyak pohon tumbang yang disebabkan oleh angin yang lumayan kencang, jika beristirahat disini tetaplah hati-hati.

Pos I - Pos II
Jarak antara kedua pos ini cukup jauh, yaitu sekitar 60-90 menit, dengan kemiringan sekitar 30 derajat, kita akan melewati jalan setapak diatara pohon-pohon besar yang masih mendominasi daerah ini. Pos II merupakan sebuah daerah yang cukup luas dan datar. Banyak pendaki yang berkemah disini, dimusim hujan kita bisa menjumpai sumber air disekitar daerah ini. 

Pos II - Pos III
Dari Pos II ini kemiringan jalan setapak kira-kira 45 - 50 derajat, tanjakan yang akan memeras keringat. Kadang-kadang kita harus scrambling untuk naik keatas dengan menggunakan akar-akar pohon. Lamanya perjalanan sampai Pos III sekitar 2 - 3 jam. Di Pos III ini kita juga tidak akan menemukan reruntuhan bekas pondok. Ditempat ini juga tidak terdapat sumber air.

Pos III - Pos IV
Keadaan jalan setapaknya tetap dengan kemiringan sekitar 40 derajat, dengan lama perjalanan sekitar 60 -90 menit. Di Pos IV ini juga kita hanya akan menemukan reruntuhan bekas shelter, 

Pos IV - Pos V
KOndisi jalannya masih sama, hanaya saja vegetasi tumbuhannya sudah mulai rendah. dan diantara Pos IV dan Pos V ini kita akan menemukan sumber air disebelah kiri jalan setapak, letaknya agak menurun sedikit, tetapi sumber air ini kadang-kadang kering terutama sekali pada musim kemarau. Dari sini ke Pos V hanya berjarak sekitar 50 menit perjalanan. Pos V merupakan daerah yang datar dan agak sedikit terbuka dan ditandai dengan papan bertuliskan "Pos V' . 

Pos V - VI
Jalan setapak yang menanjak dan ditumbuhi vegetasi rendah serta daerah yang sedikit terbuka mewarnai keadaan didaerah ini. Dikanan dan kiri jalan setapak kadang-kandang terdapat jurang, kita harus benar-benar waspada. Kondisi seperti ini kadang sangat melelahkan dan membosankan. Saat mendekati daerah Pos V kita akan menemui daerah yang berlumut dan cukup dingin serta kadang-kadang tertutup kabut. Di Pos V ini juga tidak terdapat pondok atau shelter, akan tetapi hanya sebuah daerah yang cukup lapang dan datar, dan cukup dingin suhunya. Daerah ini juga ditumbuhi oleh pohon-pohon pinus yang tumbuh rapat dan berlumut. Daerah ini sering dijadikan tempat buat basecamp oleh pendaki, disini juga terdapat sebuah telaga kecil yang airnya dapat dipergunakan untuk memasak atau MCK. Tempat ini memang sangat baik untuk bermalam dan bersiap untuk kepuncak keesokan harinya.

Pos VI - Puncak
Perjalanan kepuncak butuh waktu sekitar 15-20 menit. dengan jalan setapak yang ditumbuhi oleh alang-alang yang dalam bahasa Manado disebut "Kusu-kusu". Perjalanan dari Pos V ini bisa dimulai tergantung dari rencana pendakian anda, jika ingin menikmati Sunrise ada baiknya memulai pendakian kepuncak sekitar jam 04.00 dini hari. Keadaan puncaknya berupa sebuah daerah yang datar dan angin bertiup cukup kencang. Apabila cuaca cukup baik kita akan bisa menikmati pemandangan kota Manado dengan pinggiran pantainya, keindahan pelabuhan Bitung, Gunung Lokon dan Gunung Mahawu, serta Gunung Tangkoko dan Dua Saudara. 

Perijinan
Perijinan untuk mendaki gunung ini tidak terlalu rumit, kita harus melapor di pos polisi di Airmadidi yang berada dipinggir jalan raya. Semua perbekalan dan perlengkapan akan dicek disini. Bagi pendaki yang berasal dari daerah lain ada baiknya untuk mempersiapkan photo copy KTP dan surat jalan untuk lebih memperjelas data.

Gunung Baliase



Gunung Balease 2894 mdpl, berada pada Desa bantimurung bone-bone kabupaten luwu utara sulawesi selatan, banyak yang salah menduga tentang ketinggian Gunung Ini ada yang menyebutkan bahwa ketinggiannya 3016 mdpl tetapi salah, Tolangilah yang memiliki ketinggian tersebut Gunung ini terletak di Pegunungan yang terbentang dari Bone-bone ke Masamba dengan ketinggian 2894 mdpl, akan tetapi kita harus melalui Gunung Tolangi dengan ketinggian 3016 mdpl. Di pegunungan ini bukan hanya dua gunung tersebut tetapi ada 4 gunung yaitu : Tolangi , Balease , Kabentonu , Rantekambola semuanya kurang lebih 3000 mdpl.






Gambaran pendakian:
Dari Makassar ke Bone-bone biaya kurang lebih 100.000 di Bone-bone langsung ke desa Bantimurung menemui juru kunci : Pak nas, usahakan dari Makassar pada pagi hari agar tiba di Bone-bone pada sore atau malam hari, ojek dari pasar bone2 tersedia setiap saat.  

Dari rumah Pak nas, berangkat sekitar jam 8am, menuju pintu rimba air terjun,isilah kantong air minimal 3 liter max 5 liter, usahakan lepas dari pintu rimba sekitar jam 11am dan ngecamp di pos 2

Dari pos 2 menuju pos 3 ada sungai kecil kalau beruntung terdapat air, dan usahakan ngecamp di pos 4 atau lewat, agar target terkejar.

Dari pos 5 melewati punggungan dan usahakan ngecamp di Lembah Waruh (telaga Lumut) kalau beruntung suplay air disini melimpah tapi kadang2 kering.

Keesokan harinya lanjutkan perjalanan menuju puncak Baliase dan kembali pulang usahakan ngecamp di pos 5 atau 4. 

Catatan:
·         Pintu rimba terletak di air terjun desa bantimurung, Kecamatan Bone-bone, Luwu Utara, Sul-Sel
·         Mempunyai juru kunci bernama pak nasaruddin
·         Usahakan membawa liader yang pernah kesana
·         Jangan berharap ada porter yang mau membawa barang, karena penduduk masih jarang pernah ke puncak
·         Masing-masing membawa kantung air
·         Suplay air hanya ada di air terjun, kali kecil antara pos 2 dan 3 (kalau ada) , tampungan air yang ada di camp dan lembah waruh,
·         Jangan sekali2 berangkat tanpa ijin pak nas
·         Jangan naik apabilah ada pendaki yang baru saja dari atas gunung (otomatis suplay air telah habis atau berkurang)
·         Usahakan kantung air selalu penuh dan usahakan hemat air selama perjalanan
·         Usahakan masaknya malam hari agar pada pagi hari langsung jalan (apabila mengejar target)
·         Perhatikan string dan tanda jalan,
·         Jangan menegur apabila melihat atau mendengar yang aneh-aneh
·         Hati2 terhadap rotan, pacet, pada saat tiarap dan melewati akar
·         Tiang tranggulasinya terbuat dari besi.

Gunung Awu



Gunung ini terletak di sebelah utara dari Pulau Sangihe Besar dan dikelilingi lereng yang cukup landai.

Untuk mencapai puncak gunung ini pada umumnya pendakian dilakukan atau dimulai dari Kampung Anggis di pantai selatan, sejauh kurang lebih 7 km dari kawah. Perjalanannya adalah diantara S.Muande dan S. Maelebuhe dan pada awalnya pendakian dilakukan dengan melalui perkebunan kelapa hingga titik triangulasi 350 meter. Kemudian pendakian akan menemui Dusun Kanaka dan setelah itu menuju Panise dan berakhir di Panto Unema.

Perjalanan setelah Panto Unema agak lebih berat  karena pendakian melalui punggung utara ini akan melalui jurang Muade dan Malebuhe yang pertama kali dilalui oleh Kusumadinata pada tahun 1968. Hingga garis ketinggian 500 meter masih dijumpai perkebunan rakyat, setelah itu perjalanan akan melewati daerah dengan tumbuhan panda dan akan semakin jarang ketika perjalanan semakin ke atas. 

Perjalanan selanjutnya akan mencapai Nena Masane dan diteruskan sampai mencapai daerah Nena Marangge. Di daerah ini dahulu terdapat pos peristirahatan tetapi sekarang pos tersebut sudah tidak ada lagi. Dan di tempat ini pernah terjadi musibah ketika dua orang pengamat gunung berapi menemui ajalnya. Dan setelah tempat ini pendakian yang sesungguhnya dimulai.  Setelah mendaki selama 3 jam atau setinggi 300 meter akan dicapai daerah lava keras dan pendakian akan menjadi lebih mudah.

  Di Bowondego atau di jalan Tahuna terdapat pos pengamatan gunung berapi tetapi pendakian yang dimulai dari sini sangat jarang dilakukan.